Minggu, 20 Maret 2022

KEBERMANFAATAN GURU DI TENGAH MASYARAKAT Oleh Supriyanto, S.Pd Guru Bahasa Indonesia SMP Muhammdiyah 2 Kebumen

 

Guru merupakan orang yang memiliki kempuan untuk mengajar dan mendidik siswa atau masyarakat serta membimbing dan melatih mereka untuk memahami dan terampil sesuai dengan ilmu yang diajarkan.  Komitmen guru dalam menyampaikan ilmu baik formal maupun non formal menjadikan guru sebagai tokoh yang menjadi teladan bagi masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan guru dalam masyarakat dapat dikatakan sebagai “model” dalam kehidupan di lingkungan besar maupun kecil. Keberadaan guru dalam dunia pendidikan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat guru berperan sebagai teladan bagi masyarakat di sekitarnya, baik kehidupan pribadinya maupun kehidupan keluarganya. Sebagai agen masyarakat, guru berperan sebagai mediator (penengah) antara masyarakat dengan dunia pendidikan khususnya di sekolah. Dalam kaitan ini, guru akan membawa dan mengembangkan berbagai upaya pendidikan di sekolah ke dalam kehidupan di masyarakat, dan juga membawa kehidupan di masyarakat ke sekolah. Selanjutnya, sebagai pendidik masyarakat, bersama unsur masyarakat lainnya guru berperan mengembangkan berbagai upaya pendidikan yang dapat menunjang pencapaian hasil pendidikan yang bermutu.

 

Kedudukan seorang guru di lingkungan tempat tinggal merupakan sosok yang sering menjadi harapan bagi sebagian besar masyarakat pada umumnya. Keberagaman latar belakang kehidupan di suatu masyrakat akan semakin banyak ide dan kebutuhannya yang sangat membutuhkan kehadiran orang yang sanggup menjadi akomodator bagi lingkungan meskipun  hal itu tidak luput dari kekurangan dan kelemahan sebagai mahluk pribadi. Sering kali kehadiran guru di tengah masyarakat memiliki manfaat yang sangat penting bagi keharmonisan suatu kelompok masyarakat.

 

Sebagai pribadi yang memiliki jiwa kearifan dan kesederhanaan dalam berbagai tindakan dan perilaku sehari-hari, guru sering menjadi teladan bagi masyarakat. Keteladanan itu tercermin dari perilaku hidup yang cenderung dalam kesederhanaan. Pola kehidupan yang demikian hampir merata terlihat di berbagai jenis kelomp[ok mmasyarakat dengan strata sosial mulai dari yang terendah sampai dengan masyarakat mewah.

Dalam hubungan sosial bermasyakat, seorang guru sering kali tampil sebagai contoh untuk ditiru dan dicermati segala aktifitasnya. Tindak tutur yang muncul dari sosok guru sudah semestinya mencerminkan kearifan kepribadian yang dapat mempengaruhi emosi masyrakat. Sering kali perkataan guru di mayarakat menjadi semacam lampu terang dalam situasi tertentu.

 

Jika kita mengingat kembali masa kehidupan Socrates sebagai seorang pemahat patung yang memiliki keahlian dalam filsafat dengan kepribadian yang sangat sederhana, Socrates menjadi penasehat raja yang sanggup mempengaruhi dan membangun negeri melalui tangan raja. Kehidupan lingkungan masyarakat di sekelilingnya sangat tergamabar dari kepribadian sederhana yang dimunculkan dalam berkehidupan melalui Plato dan Aristoteles sebagai generasi penerusnya.  Ini membuktikan bahwa ilmu yang dimiliki seorang guru mampu menjadi keteladanan bagi kehidupan bermasyarakat.

 

Dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kalimat semboyannya ing madya mamgun karsa bahwa kehadiran guru di tengah masyarakat sangat bermanfaat bagi komunitas masyarakat tersebut. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan kondisi masyrakat yang sering kali membutuhkan ide dan pemikiran serta tindakan konkret dari sosok guru. Setiap gagasan dan ide yang dimunculkan mampu menggerakkan anggota masyarakat dalam berbagai kegiatan misalnya kerja bakti warga dan  peringatan hari besar agama maupun nasional dan lain-lain yang melibatkan berbagai komponen masyrakat,

 

Selain itu, dalam situasi tertentu, kehadiran guru sebagai tokoh yang mampu menengahi suatu permasalahan masyarakat sangat dibutuhkan kebermanfaatannya. Pada era modern seperti saat ini, dengan latar belakang masyarakat dan kondisi sosial yang sangat heterogen, kemungkinan munculnya permasalahan sosial, ekonomi, atau politik di suatu kelompok masyarakat sangat besar. Dicontohkan dengan sebuah konflik masyarakat yang sering muncul dalam suatu kegiatan program kerja masyarakat untuk pembukaan lahan sebagai jalan setapak untuk akses warga. Hal ini sering kali mengalami kendala karena kurang maksimal dalam dialog dengan anggota masyarakat sehingga timbul keengganan sebagian masyarakat untuk  melaksanakan program.  Pada situasi demikian, kehadiran seorang yang mampu memberikan alternatif atau solusi pemecahan masalah sangat dibutuhkan. Ini bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemapuan dialog dan memiliki kemampuan membaca psikologi masyarakat. Ilmu semacam ini sering dimiliki oleh seorang guru.

 

Dalam Undang-undang no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pada bab 1 pasal 1 dikatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam kehidupan di tengah masyarakat, profesi seorang guru sering menjadi bahan rujukan untuk memperoleh dan menyerap ilmu. Hal ini menjadi sesuatu yang tidak ringan karena kehidupan dan perkembangan masyarkat sanjutnya menjadi taruhan. Baik buruknya tingkat pendidikan masyarakat sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai profesiaonal.

 

Guru, lebih dari siapa pun, diharapkan untuk membangun komunitas  dan menciptakan masyarakat berpengetahuan sehingga mampu mengubah hal yang mendasar untuk kemakmuran ekonomi. Masyarakat memberikan tingkat kepercayaan kepada guru sebagai pengajar profesional yang bervariasi. Masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi dalam kerja yang dilakukan oleh guru. Masyarakat memeberikan kekuatan yang cukup terhadap anak mereka. sebagian besar orang tua, secara sukarela mengizinkan anak mereka untuk dipengaruhi dan mengharapkan anak mereka untuk menurut dan menghargai guru. Dengan kondisi fakta yang demikian itu, guru hampir dapat dipastikan sebagai salah satu rujukan kuat untuk pengembangan pendidikan di masyarakat.

 

Keberagaman masyarakat yang didominasi kaum berpendidikan rendah  dalam kehidupan sehari-hari sering kali menimbulkan polemik tersendiri. Sering kali terjadi kondisi stagnan di masyarakat itu. Kondisi semacam ini dapat diartikan sebagai kondisi dalam kurun waktu tertentu tidak mengalami perubahan peningkatan pembangunan dari ditinjau dari bebrapa sisi. Stagnasi ini terjadi karena sebagian besar masyarakat tidak berani untuk melangkanh maju karena minimnya pengalaman belajar dan kurangnya kepercayaan diri untuk melakukan tindakan. Lebih parahnya lagi, timbul ketidakpercayaan antarmasyarakat yang dipicu sedikit perbedaan pendapat dalam komunitas. Hal ini akan terus berlangsung sampai dengan ada sosok atau sekelompok orang yang memiliki tingkat kemampuan menggerakan masyarakat untuk berkembang.

 

Sebagai figur yang dapat memberikan kekuatan psikologi, guru sangat diharapkan keberadaanya di tengah masyarakat. Dengan didasarkan pada kepribadian guru pada umumnya yang harus dimiliki seorang pendidik, masyarakat memercayakan sosok guru untuk menggerakkan kelompoknya dengan kemampuan bersosialisasi dan memitivasi. Sering kali terjadi di masyarakat seorang guru menjadi tokoh masyarakat yang dianggap serba bisa dengan tidak menafikkan kekurangan yang dimilikinya. Di sinilah letak peran guru ditengah masyarakat yang diyakini mampu  membangkitkan semangat masyarakat di tengah “kemandegan” berpikir dan keengganan bergerak. Sebagai penggerak masyarakat, sering kali kemampuan guru dijadikan landasan untuk memulai sebuah perubahan.

 

Pada hakikatnya, seorang manusia “guru” akan menjadi bermanfaat bagi diri dan masyarakatnya manakala orang tersebut memiliki keberanian dalam menyampaikan ilmunya dan memberikan keteladanan yang diharapakan oleh masyarakat di mana dia berada. Kebermanfaatan itu akan menjadi titik tolak perkembangan peradaban dan kemajuan pendidikan masyarakat. Kemampuan untuk mendorong kondisi masyarakat ke arah lebih maju dan peletakan dasar kearifan yang kuat pada kepribadian masyarakat akan menjadi rujukan bagi generasi selanjutnya.

Selasa, 15 Maret 2022

Peningkatan Kapasitas Diri Guru oleh Yuni Rokhmawati, S.Pd Guru IPA SMP Muhammadiyah 2 Kebumen

 

 

Guru merupakan seorang pendidik dan pengajar pada pendidikan formal dan pendidikan informal. Peran guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik. Guru merupakan ruh pada proses pembelajaran, keberhasilan  mendidik dan mengajar siswa terletak pada guru yang berkualitas.

Problematika dunia pendidikan pada masa pandemi Covid 19 guru mengalami kesulitan dalam mengajar dan harus menyesuaikan dengan pengusaan teknologi. Proses pembelajaran yang biasanya menggunakan metode tatap muka beralih ke metode daring. Peralihan pembelajaran daring ini membuat guru kesulitan menstranfer ilmunya kepada peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran daring pada awal pandemi Covid 19 pun sedikit terhambat karena kurangnya kemampuan penguasaan teknologi, terbatasnya sarana dan prasarna serta biaya yang harus dikeluarkan untuk menunjang teknologi tersebut.

Pembelajaran daring menggunakan aplikasi seperti : WA Grup, E Lerning, Classroom, Quiziz, Kahoot dan lain-lain, ternyata tidak seefektif kegiatan pembelajaran tatap muka langsung, karena belum tentu apa yang disampaikan guru langsung bisa dipahami oleh semua siswa. Komunikasi siswa juga terbatas, mereka kurang berani mengungkapkan pendapatnya saat pembelajaran daring.

Mengamati pengalaman beberapa guru, maka guru juga harus siap menggunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Guru harus mampu membuat model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa di sekolahnya. Guru harus terbiasa mengajar dengan memanfaatkan media daring yang dikemas efektif, mudah diakses dan dipahami oleh siswa.

Untuk meningkatkan kompetensi guru di masa pandemi Covid 19 dan Era Revolusi Industri 4.0, guru harus bisa bersinergi dengan teknologi. Guru lebih dituntut untuk memahami dinamika kelas yang terus berkembang. Guru yang bisa memanfaatkan teknologi, maka guru tersebut lebih percaya diri dan mudah dalam mengajar siswa. Ruang belajar lebih menyenangkan, kreatif dan inovtif.

Pendidikan saat ini dituntut guru mampu membekali siswa dengan ketrampilan abad 21 meliputi 1) Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), merupakan implementasi profil pelajar pancasila 2) 4C (Literasi, Critical Thinking, Creative Thinking, Collaboration, dan Communication) 3) Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS).  Ketrampilan abad 21 adalah ketrampilan peserta didik yang mampu berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, ketrampilan berkomunikasi dan kolaborasi. Selain itu ketrampilan mencari, mengelola dan menyampaiakan informasi serta terampil menggunakan teknologi.

Guru perlu meningkatkan kompetensi sesuai dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0, karena revolusi industri menuntut guru mampu memanfaatkan kemajuan teknologi yang super cepat untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul. Di era revolusi industri 4.0, jika guru hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa di kelas, maka peran guru dapat tergantikan oleh teknologi. Padahal hakekat yang sebenarnya, peran guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi secanggih apapun dalam mendidik karakter, moral dan memberikan keteladanan kepada siswa.

Dunia berubah sangat cepat, digitalisasi menyebabkan perubahan yang sangat besar. Apabila guru tidak mau meningkatkan kompetensinya, ruang kelas akan terasa hampa. Ruang kelas sangatlah penting bagi perkembangan intelektual siswa dan perkembangan kepribadian siswa. Ruang kelas dengan model lama harus segera ditinggalkan dan di era digitalisasi ruang kelas mengalami perubahan kearah pola pembelajaran digital yang menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, partisiptif, beragam dan menyeluruh. Guru berperan penting dalam mengkonseptualkan informasi dan membimbing peserta didik saat diskusi daring maupun pembelajaran tatap muka.

                Kompetensi guru yang lain yang harus dikuasai adalah menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.  Guru memegang peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif bagi siswa. Guru yang kompeten akan lebih mampu untuk menjalankan perannya menciptakan pembelajaran yang efektif sehingga diharapkan hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Untuk menghasilkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif langkah yang harus dilakukan guru adalah membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran yang inspiratif.

                Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan  jenjang pendidikan dasar difokuskan pada penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila serta  kompetensi literasi dan numerasi. Guru diharapkan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis literasi, numerasi dan profil pelajar Pancsila. Dengan regulasi yang selalu berubah guru mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini. Pemerintah mempunyai arah kebijakan pada dunia pendidikan yaitu meningkatan literasi, inovasi, dan kreativitas. Strategi kebijakan pemerintah antara lain: 1) peningkatan budaya literasi; 2) pengembangan, pembinaan dan pelindungan bahasa Indonesia, bahasa dan aksara daerah, serta sastra; dan 3)penguatan institusi sosial penggerak literasi  dan inovasi.               

                Tantangan dunia pendidikan sejak pandemi Covid 19 diantaranya pemerintah menghapus UN dan menggantinya dengan menerapkan Aseemnet Nasional. Asesmen Nasional mencakup AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), Survei Karakter, Survei Lingkungan Belajar.  Siswa Indonesia masih mengalami krisis literasi, baik pada tingkat dasar, menengah dan atas. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan saja, harus dicari solusi yang tepat. Guru harus mengetahui tentang Assement Nasional yang nantinya bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dan mulai membiasakan literasi sejak anak usia dini.

                AKM mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Sasaran AKM adalah siswa. Survei Karakter mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter pelajar Pancasila. Yang menjadi sasaran siswa. Survei Lingkungan Belajar mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah, menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Sasarannya adalah siswa, guru, Kepala Sekolah

                Visi Pendidikan Nasional adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa  kepada Tuhan YME, dan berakhlak  mulia, bergotong royong, dan  berkebinekaan global.      Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,

                Pendidikan di Indonesia bisa berjalan selaras dengan perkembangan zaman, bisa terwujud jika guru memberikan kapasitasnya secara maksimal dalam proses pembelajaran. Yang harus dilakukan guru yaitu mendesaian pembelajaran berbasis Literasi, Numerasi dan Profil Pelajar Pancasila. RPP yang dibuat guru menjadi dasar guru mengajar, Langkah -langkah pembelajaran tersusun secara sistematis sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan juga bisa tercapai.

Peningkatan kompetensi guru dilakukan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran. Dengan guru mendesain pembelajaran berbasis literasi (membaca) dan numerasi (angka-angka), guru menyiapkan bahan bacaan atau teks untuk dibaca dan dianalisis oleh siswa. Satu teks bacaan  bisa untuk mengajukan ide dan gagasan literasi atau numerasi. Rasa ingin tahu dari siswa bisa ditumbuhkan dengan cerita atau bacaan yang disajikan, siswa diajak untuk berpikir kritis, menyampaikan ide dan gagasannya, hingga siswa mampu menyimpulkan dari bacaan yang disediakan oleh guru.

Pada teks bacaan siswa bisa diajak untuk menganalisis data, kemudian data tersebut dijabarkan dalam bentuk tabel atau grafik. Hal ini juga melatih numerasi siswa. Dengan siswa terbiasa mempelajari literasi dan numerasi pada proses pembelajaran, siswa memiliki nalar yang kritis dan melahirkan ide-ide yang mampu mengubah paradigma pembelajaran selama ini . Siswa memiliki optimisme tinggi terhadap masa depannya.

Penguatan Karakter yang yang dimunculkan menjadi implementasi profil pelajar Pancasila. Setiap pembelajaran guru harus memasukkan karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri. Harapan besar bagi dunia pendidikan, dapat menciptakan karakter yang kuat bagi siswa. Karakter siswa yang tumbuh bisa menjadi pengendali diri siswa di era digitalisasi.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan, dituntut memiliki kemampuan dasar sebagai pendidik dan pengajar, mampu menciptakan pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan. Guru dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman belajar yang berkesan kepada siswa.  Untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas, sebelum mengajar guru harus mempersiapkan diri mulai dari penggunaan teknologi (aplikasi daring), membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berbasis literasi, numerasi dan profil pelajar Pancasila. Dengan demikian guru berkualitas telah menyiapkan generasi muda bangsa Indonesia cerdas dan unggul yang siap membangun Indonesia Maju.

Selasa, 08 Maret 2022

SMP Muhammadiyah 2 Kebumen dinobatkan sebagai Sekolah Aktif Literasi Nasional 2022


SMP Muhammadiyah 2 Kebumen kembali di bulan Februari 2022 mendapatkan penghargaan sebagai sekolah Aktif Literasi Nasional dalam Festival Literasi Kebumen 2021. Program Kegiatan literasi ini diselenggarakan oleh Nyalanesia, Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kebumen dan Kementrian Agama Kabupaten Kebumen berlangsung sejak bulan Juli 2021 sampai dengan Maret 2022. Peserta program difasilitasi dan bertualang bersama serangkaian kegiatan yaitu 1) Workshop dan Sertifikasi Kompetensi, 2) Penulisan dan Perlombaan Literasi, 3) Penerbitan dan Per-cetakan Buku Ber-ISBN, 4) Fasilitas Pembuatan dan Pengelolaan Website Literasi Sekolah, 5) Konsultasi dan Pengembangan Program Literasi, 6) Seminar Nasional dan Sarasehan, 7) Penganugerahan Peng-hargaan dan Hadiah Ratusan Juta Rupiah, serta 8) Acara Puncak Festival Literasi Nasional Tahun 2022

Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional) adalah sebuah program pengembangan literasi sekolah, yang memfasilitasi seluruh siswa dan guru jenjang SD, SMP, SMA dan sederajat untuk dapat menerbitkan buku ber-ISBN, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi, pendampingan pengembangan program literasi, serta kompetisi berliterasi paling bergengsi di tingkat nasional. Program GSMB Nasional dipersembahkan bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia guna menjadi solusi sekaligus wahana untuk mengakselerasi kualitas budaya literasi dan mutu pendidikan secara lebih efektif, efisien dan penuh suka cita.

Dalam Program ini SMP Muhammadiyah mendapatkan penghargaan sebagai siswa terbaik ke 2 dalam katagori penulisan puisi tingkat Sekolah Menengah Kabupaten Kebumen atas nama Siswa Davina Febriyani dengan mendapatkan piagam penghargaan, piala serta uang pembinaan. 


Turut serta koordinator kegiatan di tingkat sekolah mendapatkan penghargaan sebagai guru berprestasi dibidang Literasi atas nama Ibu Setiani, S.Pd. Penyerahan hadiah sekaligus puncak festival Literasi Kabupaten Kebumen yang bertempat di hotel Mexolie dihadiri langsung oleh Bupati Kebumen bapak H. Arif Sugiyanto, SH, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga Kabpaten Kebumen, Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupten Kebumen serta seluruh peserta Program Gerakan Sekolah Menulis Buku kabupaten Kebumen tahun 2021. 

Dalam sambutannya Bupati Kebumen menyampaikan pesan kepada peserta yang hadir agar di masyarakat memulai membudayakan menulis walaupun sederhana, karena dengan menulis akan membentuk karakter bangsa yang unggul.


Satu karya buku yang diterbitkan dalam program ini oleh siswa SMP Muhammadiyah 2 Kebumen adalah karya buku antologi Puisi yang berjudul “Ketika Kata Bersuara” yaitu kumpulan 50 tulisan puisi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 2 Kebumen. Kami bersyukur mengikuti kegiatan ini karena para siswa ditanamkan budaya literasi dengan baik sehingga dapat meningkatkan minat belajar, dan produktifitas berkarya menjadi semakin baik, kata Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kebumen, Imam Romzan Fauzi, M.Pd yang juga diberikan penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi di bidang Literasi Kabupaten Kebumen tahun 2022.


Rabu, 26 Januari 2022

LOMBA POJOK BACA KELAS PERPUSTAKAAN ANDALUSIA SMP MUHAMMADIYAH 2 KEBUMEN SEMESTER 1 TAHUN 2021 / 2022




Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003). Sehubungan dengan hal itu SMP Muhammadiyah 2 Kebumen  mengeskpresikan pengetahuan menulis dan berbahasa dengan ide-ide kreatifnya melalui Pojok Baca Kelas pada tanggal

6 Januari 2022

 

Maksud dan Tujuan  kegiatan  Lomba  Pojok Baca Kelas

          Maksud :                                                                   

1.      Pengembangan diri siswa/siswi

2.      Menggali potensi yang ada pada siswa/siswi  

          Tujuan :

1.      Partisipasi dalam  Gerakan Literasi Sekolah  

2.      Supaya siswa/siswi dapat menyalurkan hobi dan bakat.

3.      Untuk menanamkan rasa cinta siswa/siswi budaya membaca dan menulis

4.      Agar Guru mampu meningkatkan minat baca siswa-siswi di lingkungan Sekolah

 

Standar Kompetisi

1.       Mampu menumbuhkan karakter dalam wujud budi pekerti sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 dan melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi..

2.       Agar pengembangan budaya literasi dan pembelajaran literasi di SMP Muhammadiyah 2 Kebumen  dapat terealisasi dan mencapai hasil seperti yang diharapkan

Selasa, 07 Desember 2021

Guru dan Pembelajaran Pasca Pandemi Oleh Imam Romzan Fauzi Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kebumen

 

Pandemi Covid-19 telah mengubah cara belajar dan mengajar guru dan siswa. Pembelajaran komvensional tatap muka di kelas telah berubah menjadi pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan (daring). Ruang kelas tidak lagi menjadi tempat belajar karena telah tergantikan dengan ruang maya berupa media pembelajaran dalam jaringan dalam platform yang bermacam-macam. Semua tingkatan strata sekolah bermigrasi dalam metode pembelajarannya dengan segala kendala dan strategi jitu masing-masing sekolah. Mulai dari tingkat perguruan tinggi hingga murid tingkat dasar dan tak terkecuali siswa pra sekolah terpaksa melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam jaringan.

Keterlibatan banyak pihak dalam mensukseskan kegiatan pembelajaran dalam jaringan tidak dapat dipungkiri. Ahli IT media pembelajaran berupaya menghadirkan media pembelajaran yang mudah dan dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran masa pandemi. Orang tua sangat berperan luar biasa dalam mengawal putra putrinya dalam mengikuti segala metode pembelajaran di sekolah. Mereka terpaksa dan dituntut bisa menjadi jembatan antara pihak sekolah dengan anak mereka sendiri dalam belajar dalam jaringan. Orang tua harus turut belajar dan mempelajari agar pembelajaran melalui dunia maya di sekolah bagi anak-anaknya dapat diikuti dengan baik. Terlebih lagi bagi para murid yang harus meninggalakan tempat belajar di kelas harus merasakan betapa sulitnya menghadapi pembelajaran jarak jauh dengan berbagai macam kendala dan hambatan.

Sedemikian pula Guru, pembelajaran di masa Pandemi menuntut mereka harus menguasahi berbagai macam metode pembelajaran dalam jaringan. Suka atau tidak suka guru harus menguasahi teknologi IT dalam jaringan baik platform yang tersedia secara cuma-cuma ataupun platform yang dibuat oleh sekolah yang berbiaya. Begitu pula berbagai pelatihan untuk mengasah ketrampilan mengajar daring bagi guru marak diselenggarakan, baik oleh pemerintah maupun pihak sekolah sendiri. Pembekalan pembelajaran media daring bagi guru dilakukan dengan tujuan agar pembelajaran di dalam kelas dapat tergantikan melalui pembelajaran daring sekalipun tidak seratus persen tercapai. Berbagai macam materi pembelajaran semua disampaikan secara jarak jauh baik materi pembelajaran dalam bentuk tulisan, gambar, suara atau dalam bentuk video kepada siswa dengan harapan transfer ilmu dapat tercapai. Sedemikian pula dalam pelaksanaan evaluasi belajar, para murid dituntut untuk mengikuti ulangan harian, penilaian semester hingga ujian sekolah menggunakan sarana dalam jaringan.

Semua ikhtiyar sekolah dan guru dalam pembelajaran jarak jauh telah dilalui dengan berbagai lika likunya, baik secara daring murni, Luring maupun kombinasi keduanya (blended learning). Hambatan guru dalam mengajar menjadi penentu utama sukses dan tidaknya proses pembelajaran jarak jauh tersebut. Kepemilikan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan infrastruktur digital baik murid maupun guru juga menjadi kendala dan penentu kualitas dalam proses pembelajaran jarak jauh. Keterbatasan guru dalam pemahaman penguasaan strategi mengajar secara digital juga menjadi penentu kesuksesan proses belajar jarak jauh. Sehingga ketika guru mampu menghadirkan pengalaman belajar di ruang kelas melalui pembelajaran jarak jauh dengan penguasaan digital yang baik, maka siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang sesungguhnya. Karena yang sesungguhnya bahwa proses belajar itu adalah pembelajaran itu sendiri baru kemudian teknologi dalam pembelajaran.

Pandemi telah mulai melandai dan proses pembelajaran telah dimulai untuk pembelajaran tatap muka. Sedikit demi sedikit proses pembelajaran akan menjadi normal kembali. Murid mulai kembali ke bangku kelasnya di sekolah mereka. Sudah satu setegah tahun lebih mereka tidak berada di ruang kelas untuk belajar. Telah saatnya mereka bertemu dengan teman dan guru mereka untuk belajar bersama dalam satu ruang kelas. Pertanyaannya, apakah proses pembelajaran dengan menggunakan sarana TIK yang selama pandemi dipakai akan ditinggalkan guru setelah pembelajaran tatap muka kembali diadakan ?.

Pertanyaan ini tentunya menggelitik semua guru-guru kita, di satu sisi pembelajaran dengan TIK telah menjadi kebiasaan selama hampir dua tahun dan mempermudah para guru. Namun di satu sisi lain bahwa pembelajaran bukan hanya transfer ilmu namun lebih dari itu bahwa pembelajaran adalah dalam rangka pembentukan karakter siswa dan proses keteladanan. Sehingga dengan pengalaman yang cukup panjang melalui pembelajaran jarak jauh maka guru di masa pasca pandemi dituntut untuk:

Pertama, Adatif. bahwa dalam situasi apapun seorang guru harus dapat menyesuaikan diri dalam proses pembelajarannya. Keterbatasan guru dalam kemampuan mengajar harus disesuikan dengan kebutuhan sepanjang zaman. Maka guru harus terus melakukan reposisi diri dalam menghadapi segala keadaan. Mereka harus siap dengan kondisi apapun nantinya, apalagi menghadapi pendidikan global kedepan guru harus mampu bersaing dengan tenaga pendidikan bangsa dan negara lain.

Kedua, Kolaboratif. bahwa guru harus siap dengan penguasaan yang beraneka macam pengetahuan dan ketrampilan. Pelajaran yang dapat diambil dari pembelajaran masa pandemi adalah semua guru apapun itu mata pelajarannya yang diajarkan pada usia apapun harus siap dengan penguasaan teknologi IT. Artinya mereka harus mengkolaborasikan ilmu yang dimiliki dengan ketranpilan IT dalam proses pembelajaran mereka. Dengan begitu kedepan guru sudah harus terbiasa dengan pengkolaborasi antara ilmu yang diberikan dengan pengetahuan lain yang mendukung dan menguatkan pengetahuan.

Ketiga, Inovatif. Masa pandemi dengan berbagai kesulitan yang dihadapi guru ternyata dapat menciptakan berbagai inovasi-inovasi pembelajaran. Kesulitan mengajar masa pandemi menuntut guru berfikir agar bagaimana kendala pembelajaran dapat terpecahkan dan teratasi dengan baik. Sehingga di pasca pandemi kedepan mindset guru yang telah terbentuk di masa pandemi menjadi guru yang inovatif akan tetap ada pada diri guru. Mereka akan melakukan inovasi-inovasi baru untuk dapat menghasilkan proses pembelajaran yang menerik dan menyenangkan.

Keempat, Partisipatif. Keterlibatan semua pihak dalam proses belajar jarak jauh menjadikan pembelajaran bukan tanggung jawab guru dan sekolah. Namun masa pandemi terlah m,enggugah bersama bahwa proses belajar murid adalah tanggung jawab semua pihak. Orang tua telah sadar bahwa mendidik anak tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Masa pandemi telah menyadarkan orang tua bahwa peran guru sangatlah penting dan juga guru telah sadar bahwa orang tua dalam proses pendampingan belajar anak juga hal yang penting juga. Sehingga pasca pandemi sudah saatnya sekolah tidak melupakan peran aktif orang tua untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Guru sudah saatnya terus berkomunikasi dengan orang tua dalam proses pembelajaran seperti yang telah mereka lakukan pada saat pembelajaran jarak jauh.

Kelima, Efektif dan Tangguh. Proses pembelajaran jarak jauh juga telah memberi pelajaran penting bagi guru, dimana dengan segala keterbatasan yang ada guru dituntut untuk membawa hasil dan berguna bagi ketercapaian pembelajaran di masa pandemi. Serta di masa pandemi guru telah belajar untuk siap dengan segala kekurangan terutama dalam proses belajar mengajar. Sehingga dengan proses efektif dan tangguh guru menghadapi kendala dan kesulitan masa pandemi memberikan pelajaran bahwa kedepan guru harus dapat lebih memaksimalkan potensi yang dimiliki serta tidak mudah menyerah dalam segala kesulitan dan dalam menghadapi segala keaadaan.

Dengan tuntutan tersebut di atas maka pembelajaran pasca pandemi, guru harus dapat mengadaptasi, mengkolaborasi, menginovasi, efektif, tanggung dan partisipatif dalam masa pembelajaran tatap muka. Sehingga dapat diambil pelajaran bahwa guru-guru pasca masa pandemi ke depan harus lebih meningkat dan lebih progresif dalam pengabdiannya di dunia pendidikan. Pandemi telah memberi pengalaman hidup bagi guru-guru dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara melalui pendidikan dengan penuh semangat dan berdedikasi tinggi. Guna menghadapi Indonesia emas tahun 2045 sudah saatnya guru Indonesia lebih produktif lagi sehingga pendidikan sebagai pondasi utama sebuah peradaban akan tercipta melalui perjuangan dan kerja keras para guru. Selamat hari guru Nasional semoga Guru Indonesia mampu bergerak dengan hati, pulihkan pendidikan pasca pandemi sebagaimana tema guru Nasional 2021.