Minggu, 21 Agustus 2022

Spemuda Menjadi Pelaksana Program PSP


KEBUMEN(kebumenekspres.com)- SMP Muhammadiyah 2 (Spemuda) kebumen sebagai sekolah pelaksanan Program Sekolah Penggerak (PSP), berupaya maksimal untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Ini dalam kegiatan pembelajaran. 

Kurikulum Merdeka sendiri dibangun dari tiga komponen yakni Intrakurikuler, Ektra kurikuler dan kokurikuler. Hal yang baru dari Kurikulum Merdeka adalah pelaksanaan pembelajaran Kokulikuler. Adapun yang dimaksud dengan kokurikuler adalah kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. 

Hal ini dimaksudkan dalam rangka menguatkan profil Pelajar Pancasila yang memiliki enam kompetensi yang saling berkaitan dan menguatkan. 

Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kebumen Imam Romzan Fauzi MPd menyampaikan enam kompentensi tersebut meliputi dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Selain itu Berkebinekaan global, Bergotong royong,  Mandiri, Bernalar kritis dan  Kreatif.

“Maka kegiatan Projek akan menjadi cara untuk menguatkanya. Keenam dimensi tersebut diharapkan dapat mewujudkan visi Pendidikan Indonesia yaitu Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Sehingga nantinya dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Yaitu “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila,” tututnya, Jumat (12/8/2022).

Dijelaskannya, tema-tema yang dibangun dalam kegiatan projek Penguatan Profil Pelajar pancasila diantaranya Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya. Selain itu Suara Demokrasi, Berekayasa dan Berteknologi untuk Membanguan NKRI dan Kewirausahaan. 

“Kegiatan pembelajaran Kokurikuler tersebut dengan tiga prinsip pokok pelaksanaannya yakni Holistik, Kontekstual, berpusat pada murid dan eksploratif menjadikan pembelajaran akan lebih menyenangkan dan sesuai dengan kondisi riil yang dialami oleh murid,” jelasnya.

Dalam menjalankan program kokurikuler, lanjut Imam Romzan, SMP Muhammadiyah 2 Kebumen mengadakan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Ini dengan mendesain waktu pelaksanaannya dengan model Blok. 

Penerapan Projek Penguatan Pelajar Pancasila di SMP Muhammadiyah 2, memilih empat tema pokok yaitu Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bangunlah jiwa dan raganya dan Kewirausahaan. Setiap tema periode waktu pelaksanaanya dua sampai tiga  minggu. Tempat pelaksanaan Projek ada di beberapa tempat menyesuaikan aktivitas projek. 

“Ini bisa di dalam kelas, halaman sekolah, lingkungan sekitar seperti sawah, tempat industri UMKM, lokasi wisata, dan tempat sanggar budaya. Adapun pihak yang terlibat adalah para guru sebagai koordinator projek, fasilitator dan moderator Projek, juga dari instansi yang berhubungan dengan tema Projek sebagai nara sumber, penggiat budaya, pengusaha dan lain-lain yang terkait dengan tema,” ungkapnya.

Pihaknya juga berpesan kepada berbagai pihak terutama orang tua wali murid agar dapat mendukung program pemerintah di kurikulum merdeka tersebut. Untuk menguatkan profil pelajar pancasila yaitu sejalan dengan visi SMP Muhammadiyah 2 Kebumen yaitu mencetak peserta didik yang disiplin, Islami dan kompetitif. (mam)


Selasa, 07 Juni 2022

TUNTUTAN SEORANG GURU DI ERA 4.0 DALAM BIDANG IT oleh Afifah Meilantika , S.Pd

 

Dunia pendidikan menjadi salah satu ruang lingkup yang sangat penting bagi sebuah negara untuk masa depan dan kesejahteraan bagi warga di negara tersebut. Pasalnya dengan adanya pendidikan yang maju di sebuah negara, maka akan mencetak calon generasi- generasi muda penerus bangsa yang memiliki potensi untuk terus memajukan dan mengembangkan pendidikan sesuai dengan berkembang zaman. Kita dapat melihat keberhasilan suatu negara dengan menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas, sangat tergantung pada kualitas penyelenggara kegiatan proses belajar mengajar di skeolah dan lembaga pendidikan sejenis diseluruh lapisan rakyat Indonesia.  Seiring dengan perkembangan zaman, dunia pendidikan sangatlah berkembang pesat sesuai dengan peradabannya. Pendidikan saat ini sudah memasuki era dimana seorang pendidik dituntut harus bisa menguasai internet of things (IOT).

Di Indonesia, dunia pendidikan saat ini masih memiliki permasalahan dalam mutu pendidikan Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Berdasarkan Survey Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang baru saja di rilis pada bulan Maret 2019 lalu memotret seklumit masalah pendidikan Indonesia. Dalam kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada di urutan ke 74 dari 79 negara. PISA merupakan survei evaluasi sistem pedidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah. Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yaitu literasi, matematika, dan sains. Hasil pada tahun 2018 mengukur kemampuan 600 ribu anak berusia 15 tahun dari 79 negara. (Kamis, 22 Oktober 2020. ayomenulis.id/artikel)

  Berdasarkan hasil survei saat ini dunia pendidikan Indonesia masih dalam kategori rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Padahal dunia pendidikan di era saat ini sudah harus mengedepankan teknologi internet of things karena zaman sekarang ini sudah masuk di era 4.0 yang artinya pendidikan di Indonesia sudah mulai mengedepankan teknologi dalam pembelajaran khususnya dalam bidang internet of things (IOT). Dengan adanya pendidikan di era 4.0 saat ini, kurikulum pendidikan juga harus mampu menyesuaikan materi bahan ajar yang harus disampaikan ke peserta didik. Oleh karena itu selain kurikulum yang harus disiapkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik juga harus disiapkan tenaga pendidik yang harus bisa menguasai teknologi pada saat pembelajaran di dalam kelas.

Padahal tenaga pendidik atau yang sering kita sebut dengan panggilan “Guru” pahlawan tanpa tanda jasa tidak semua mumpuni dalam bidang teknologi. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang menyebabkan pembelajaran di era 4.0 di Indonesia belum maksimal. Beberapa faktor yang menyebabkan dunia pendidikan di Indonesia belum maksimal dalam mengikuti perkembangan dunia pendidikan di era 4.0 yaitu usia, sarana dan prasarana , jaringan dan pemahaman tenaga pendidik akan apa itu pendidikan pembelajaran di era 4.0 saat ini. Oleh karena itu hampir di setiap sekolah mengadakan kegiatan seminar terkait bagaimana pendidikan yang berkualitas di era 4.0 saat ini. Pelatihan- pelatihan tentang teknologi yang ditujukan kepada tenaga pendidik juga tidak sebanding dengan pengalaman mereka yang sudah berpuluh- puluh tahun mengabdi di dunia pendidikan sampai saat ini dengan tenaga pendidik yang tergolong baru serta dengan cepat tanggap bisa menguasai teknologi demi proses kelancaran kegiatan  pembelajaran di dalam kelas.

Semua tenaga pendidik saat ini dituntut harus bisa menguasai teknologi dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas. Padahal tidak semua pendidik bisa menguasai teknologi dengan cepat karena faktor usia. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama antara guru senior dan guru junior untuk saling membantu terkait pembelajaran menggunakan teknologi. Saat ini dunia sedang berduka termasuk negara kita yaitu Indonesia sedang mengalami pandemi covid-19 yang mewajibkan peserta didik untuk belajar dirumah masing-masing dan pembelajaran dilakukan secara daring menggunakan internet. Dengan masuknya dunia pendidikan di era 4.0 saat ini, tenaga pendidk yang sudah senior perlu mendapatkan pendampingan secara khusus agat dapat menguasai teknologi. Dengan diadakannya pendampingan secara rutin kepada tenaga pendidik yang senior memungkinkan mereka bisa mengaplikasikan teknologi ke dalam pembelajaran saat ini yang dituntut harus bisa menggunakan teknologi salah satunya komputer.

Pendampingan kepada tenaga pendidik khususnya bapak ibu guru senior harus ekstra sabar karena mereka termasuk dalam kategori generasi X yang kenyataanya mereka masih Gaptek “Gagap Teknologi” dan baru akan menjumpai metode pembelajaran yang dituntut harus menguasai teknologi seperti saat ini. Khusus untuk pendampingan kepada bapak ibu guru senior perlu dilakukan dengan hati- hati dan pelan agar mereka mudah memahami serta bisa mengingat materi apa yang sudah diberikan. Oleh karena itu dengan diberikan pelatihan dan sistem pembelajaran saat ini yang mengharuskan peserta didik di rumah maka tenaga pendidik sudah harus beradaptasi untuk selalu menggunakan tekologi dalam hal pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan saat ini yaitu Pembelajaran Jarak Jauh. Sistem pembelajaran tersebut dilakukan agar peserta didik bisa mendapatkan materi yang seharusnya mereka dapatkan. Pembelajaran jarak jauh sangat bermanfaat bagi peserta didik salah satunya dapat membantu peserta didik dalam hal mendapatkan materi pembelajaran. Walaupun mereka harus belajar dengan sistem daring dan menggunakan Handphone masing-masing serta dilakukan di rumah.

Selain itu, pembelajaran jarak jauh juga sangat membantu tenaga pendidik dalam menyampaikan materi yang akan diberikan kepada peserta didik. Dengan adanya sistem pembelajaran jarak jauh juga menuntut tenaga pendidik harus bisa menguasai teknologi demi kelancaran proses pembelajaran mengajar di era zaman ini. Teknologi yang harus dikuasai tenaga pendidik agar materi dapat langsung disampaikan kepada peserta didik sangatlah beragam. Tenaga pendidik dituntut harus bisa menguasai beberapa teknologi seperti komputer dan Hp android demi kelancaran proses kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu adanya pelatihan-pelatihan tentang kegiatan pembelajaran dengan menggunakan teknologi selalu melibatkan tenaga pendidik agar selalu up to date dalam bidang teknologi. Teknologi saat ini sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik dan peserta didik, selain itu teknologi yang digunakan juga sangat mudah untuk kegiatan proses kegiatan belajar mengajar.

Guru di era 4.0 saat ini sangatlah dituntut perannya untuk selalu memberikan pembelajaran yang terbaik kepada peserta didiknya. Selain itu guru juga dituntut agar selalu mempunyai jiwa yang kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi kepada peserta didik agar mereka tidak cepat jenuh atapun bosan dalam proses kegiatan mengajar. Oleh karena itu pendampingan guru dalam bidang teknologi sangatlah dibutuhkan demi menunjang kelancaran proses kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya pelatihan berbagai macam khususnya berkaitan dengan teknologi, guru jadi bisa melakukan metode pembelajaran yang beraneka macam. Misalnya pada era zaman ini yang menuntut peserta didik harus belajar dari rumah masing-masing, guru jadi mengetahui metode apa saja yang harus diberikan agar peserta didik tetap belajar walaupun dari rumah dan sistem pembelajarannya tidak membosankan. Salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh yang digunakan saat ini yaitu dengan menggunakan menerapkan aplikasi google classroom agar proses kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar.

Dari berbagai macam teknologi pembelajaran yang ada, untuk menunjang kegiatan belajar mengajar google classroom merupakan salah satu aplikasi yang sangat membantu  guru dalam hal menyampaikan materi pada saat pembelajaran jarak jauh ataupun daring seperti saat ini. Pelatihan semacam google classroom sangat penting bagi bapak ibu guru agar peserta didik bisa belajar dirumah tanpa harus bertatap muka langsung karena meihat kondisi pandemic covid-19 saat ini yang tidak memungkinkan untuk seluruh peserta didik datang ke sekolah. Pelatihan dan pendampingan kepada guru senior juga harus selalu diberikan setiap saat agar mereka selalu terbiasa untuk bisa menggunakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Tenaga pendidik juga harus pandai mengoperasikan komputer agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Selain dibekali ilmu tentang teknologi dibidang IT, demi menunjang proses pembelajaran yang berkualitas maka guru harus difasilitasi sarana dan prasarana yang memadai.

Guru Duta Bahasa oleh Puji Lestari , S.Pd Guru

 

Dalam era globalisasi saat ini, semakin terasa pentingnya berkomunikasi, baik antarindividu, antaranggota masyarakat maupun antarkelompok masyarakat. Komunikasi adalah suatu aktivitas penyampaian informasi, baik itu pesan, ide, dan gagasan dari satu pihak ke pihak lainnya yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.  Alat komunikasi yang digunakan tidak lain adalah bahasa.

Pembeda utama manusia dengan makhluk lain terletak pada dua hal yaitu kemampuan berpikir dan kemampuan berbahasa.  Manusia mampu berpikir karena memiliki bahasa. Tanpa bahasa  manusia tidak dapat memikirkan berbagai hal dan tidak akan dapat mengomunikasikan gagasan dan pikirannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, jika ingin mengungkapkan berbagai pemikiran dengan baik, maka manusia harus menguasai bahasa dengan benar.

Manusia sebagai makhluk sosial dapat berkomunikasi satu sama lain secara efektif dengan menggunakan bahasa. Dengan bahasa pula kita dapat menyatakan perasaan, pendapat, bahkan dengan bahasa kita juga dapat berpikir dan bernalar. Oleh karena itu, agar komunikasi berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman, kita tentu perlu memiliki keterampilan berbahasa yang baik dan benar.

Terkait dengan komunikasi, jelas bahwa suatu komunikasi dikatakan berhasil jika pesan yang disampaikan pembicara ataupun penulis dapat dipahami dengan baik oleh penyimak atau pembaca sesuai dengan maksud pembicara atau penulis tersebut.

Maka dari itu, kemampuan berbahasa erat kaitannya dengan proses berpikir karena proses berpikir mendasari bahasa. Bahasa seseorang dapat mencerminkan  pikirannya. Semakin cerah dan jelas pikiran seseorang, akan semakin terampil pula seseorang dalam berbahasa.

Bahasa dapat dimaknai sebagai ilmu dan keterampilan. Melatih kemampuan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan apabila telah melalui dan menyelesaikan sebuah proses, proses yang harus dilalui dalam bahasa dan berbahasa meliputi empat aspek berbahasa.

Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek, yakni keterampilan mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam lisan, sedangkan membaca dan menulis merupakan keterampilan berbahasa ragam tulis. Keempat aspek tersebut bukan hanya mendukung dalam ruang lingkup berbahasa saja, melainkan dalam ruang lingkup kehidupan juga saling berkaitan erat.

Setiap orang memiliki kemampuan berpikir dengan baik, Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan berbahasa dengan baik. Dengan menguasai keterampilan berbahasa, kita akan mampu bersikap dan bertindak secara ilmiah. Penguasaan keterampilan tersebut bagi kaum terpelajar sangat penting untuk dimiliki terutama bagi seorang guru.

Bahasa sebagai keterampilan, untuk menguasainya dibutuhkan latihan berkelanjutan dan penggunaannya secara aplikatif. Oleh karena itu, untuk menguasai keterampilan berbahasa diperlukan waktu yang memadai sebagai ruang aplikasi khususnya bagi guru baik di sekolah maupun di masyarakat.

 

Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. Penggunaan bahasa asing tidak dilarang, tetapi pengutamaan bahasa negara merupakan hal yang wajib dilaksanakan. Penggunaan bahasa di lingkungan sekolah semestinya taat pada asas yang berlaku.

Guru adalah duta dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Guru-guru di sekolah kerap dijadikan model bagi peserta didik dalam berperilaku. Guru hendaknya memberikan contoh konkret dengan keteladanan dalam berbahasa agar siswa dapat menirukan dan melafalkan kata atau kalimat dengan tepat sesuai kaidah yang berlaku. Jika guru mampu dengan tepat menggunakan bahasa Indonesia, ia akan menjadi teladan dalam berbahasa bagi peserta didiknya. Sebaliknya, jika bahasa guru tidak baik atau tidak tertib, hal itu akan berdampak buruk terhadap bahasa yang dipergunakan oleh peserta didiknya.

Dalam melaksanakan pembiasaan berbahasa yang benar, maka dalam kegiatan sehari-hari di sekolah guru selalu menggunakan bahasa Indonesia. Guru berbicara menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran di kelas, ruang guru, atau di luar kelas. Adanya kebiasaan guru yang demikian cukup membantu siswa dalam belajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia dengan benar. Oleh karena itu, setiap guru wajib menggunakan bahasa dengan benar selama berada di lingkungan sekolah.

Meningkatkan pembiasaan berbahasa Indonesia dengan benar bagi seluruh warga sekolah akan lebih sukses apabila diadakan dalam kegiatan yang terprogram. Sekolah dapat membuat program “Sehari Berbahasa Indonesia” sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa di lingkungan sekolah. Bila program ini dapat diterapkan di sekolah tentunya akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemahiran berbahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam lingkungan masyarakat, guru juga harus mampu menerapkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Fenomena kesalahan berbahasa yang terjadi di masyarakat tidak dapat dipisahkan dari peran guru dalam memberi contoh penggunaan bahasa.

Penggunaan bahasa ini berkaitan dengan penggunaan ragam bahasa secara tulis dan lisan untuk kebutuhan berkomunikasi. Ragam bahasa dari sisi penggunaan bahasa ada dua, yaitu ragam formal dan non formal.

Ragam bahasa formal juga disebut ragam bahasa resmi merupakan ragam bahasa yang biasa digunakan dalam suasana resmi atau formal, misalnya surat dinas, pidato, makalah atau karya tulis. Ragam bahasa formal (resmi) biasanya menggunakan bahasa yang baku, baik itu dalam bahasa lisan maupun tertulis. Ragam bahasa formal juga biasa digunakan pada saat kita bertutur dengan orang yang tidak kita kenal dekat atau lebih tinggi status dan pangkatnya.

Ragam bahasa non formal (tidak resmi) adalah ragam bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi, misalnya surat pribadi dan surat untuk keluarga atau yang berbentuk lisan, contohnya dalam percakapan sehari-hari. Ragam bahasa non formal biasanya digunakan oleh orang-orang yang hubungannya sudah akrab, seperti antara teman dekat, antara orang tua dan anak, atau kepada kerabat dekat lainnya.

Bahasa non formal mempunyai sifat yang khas:

1.       Kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung.

2.       Menggunakan kata-kata yang biasa dan lazim dipakai sehari-sehari. Contoh: bilang, bikin, biarin.

Dalam era globalisasi ini penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah mulai tersamarkan. Hal tersebut disebabkan kurangnya kesadaran terhadap pentingnya membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Kriteria berbahasa yang baik berarti bahwa kita harus menggunakan bahasa sesuai dengan konteks berbahasa yang selaras dengan nilai sosial masyarakat. Artinya, pada saat menggunakan bahasa, wajib diperhatikan kepada siapakah kita berkomunikasi. Berkomunikasi dengan teman tentu akan berbeda dengan berkomunikasi dengan orang tua. Kata aku digunakan kepada teman-teman dan kata saya digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati. Dalam hal ini kesantunan berbahasa mulai diajarkan.

Seorang guru harus paham betul penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Kriteria berbahasa yang benar berarti harus sesuai dengan kaidah atau aturan kebahasaan. Kaidah bahasa Indonesia meliputi kaidah tata bahasa, kaidah ejaan, dan kaidah pembentukan istilah.

Penggunaan bahasa yang tidak memperhatikan kaidah tata bahasa akan membingungkan. Misalnya, kesalahan tata bahasa dalam kalimat “Karena sering kebanjiran bupati melarang pembangunan gedung di suatu daerah”.  Apakah “bupati” yang sering kebanjiran atau “suatu daerah”?

Adapun kaidah ejaan hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia tulis dan berkaitan dengan dua hal. Pertama, kaidah ejaan berkaitan dengan penulisan kata, misalnya sekadar  bukan *sekedar, di antara  bukan *diantara. Kedua, kaidah ejaan berkaitan dengan penggunaan tanda baca. Misalnya, “Yuk, kita makan, Bapak” akan berbeda artinya dengan “Yuk, kita makan Bapak”. Kalimat pertama ‘mengajak bapak untuk makan bersama’, sedangkan kalimat kedua berarti ‘mengajak kita untuk memakan bapak’. Penggunaan koma yang kecil menghasilkan perbedaan arti yang besar.

Kaidah pembentukan istilah berkaitan penggunaan kata serapan. Seringkali, ditemukan ucapan “Selamat menjalankan aktifitas hari ini”. Penggunaan bahasa tidak secara cermat membedakan penulisan aktif dan aktivitas karena dalam bahasa Indonesia bunyi huruf [f] dan [v] tidak membedakan arti. Contoh lainnya, dalam kalimat Pengakuan tersebut menunjukkan sisi gentle dari dirinya. Seharusnya, istilah yang digunakan dalah gentlemen. Kedua kata sifat ini berbeda arti. Kata gentle berarti ‘lemah lembut’, sedangkan gentlemen berarti ‘lelaki yang memiliki etika, moral, dan berbudi bahasa halus’. Dari beberapa contoh tersebut, penggunaan istilah asing sebaiknya disertai dengan pengetahuan tentang bahasa asing yang digunakan.

Lalu, apakah itu berarti bahwa kita harus selalu berbahasa ragam formal di lingkungan masyarakat? Pada saat kita sedang berbicara dengan tukang sayur atau kepada teman, tentu saja kita tidak perlu menggunakan ragam formal.

Permasalahannya adalah apakah pada saat berbahasa ragam nonformal, sebagai seorang guru harus tetap mengindahkan kaidah berbahasa? Jawabannya adalah ya! Menggunakan kaidah dalam ragam nonformal berarti menggunakan pilihan kata yang sesuai dan tepat serta kaidah bahasa yang benar. Misalnya, ketika membeli nasi goreng, jangan mengatakan, “Bang, saya nasi goreng pake telur.” Kalimat tersebut bukan kalimat yang benar. Saya bukan nasi goring, sya orang. Untuk menjadi kalimat yang benar, hanya dibutuhkan satu kata, yaitu “mau” menjadi “Bang, saya mau nasi goring pake telur.”  Oleh karena itu, kita harus memiliki kemampuan berbahasa dengan benar.

Jadi, seorang guru harus mampu berbahasa yang benar baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat . Hal tesebut berarti bahwa dengan berbahasa yang benar dapat menyampaikan pikiran dengan informasi yang lengkap secara teratur. Ragam bahasa yang digunakan dapat berupa ragam bahasa formal atau nonformal, tergantung pada konteksnya. Guru harus selalu memberikan teladan dan tak bosan untuk dengan senang hati mengingatkan serta mengajarkan penggunaan bahasa yang benar baik kepada peserta didiknya maupun masyarakat sehingga tercipta pembiasaan berbahasa dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga selalu aktif mempelajari dan mengikuti pelatihan-pelatihan dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa dengan benar.

Minggu, 20 Maret 2022

KEBERMANFAATAN GURU DI TENGAH MASYARAKAT Oleh Supriyanto, S.Pd Guru Bahasa Indonesia SMP Muhammdiyah 2 Kebumen

 

Guru merupakan orang yang memiliki kempuan untuk mengajar dan mendidik siswa atau masyarakat serta membimbing dan melatih mereka untuk memahami dan terampil sesuai dengan ilmu yang diajarkan.  Komitmen guru dalam menyampaikan ilmu baik formal maupun non formal menjadikan guru sebagai tokoh yang menjadi teladan bagi masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan guru dalam masyarakat dapat dikatakan sebagai “model” dalam kehidupan di lingkungan besar maupun kecil. Keberadaan guru dalam dunia pendidikan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat guru berperan sebagai teladan bagi masyarakat di sekitarnya, baik kehidupan pribadinya maupun kehidupan keluarganya. Sebagai agen masyarakat, guru berperan sebagai mediator (penengah) antara masyarakat dengan dunia pendidikan khususnya di sekolah. Dalam kaitan ini, guru akan membawa dan mengembangkan berbagai upaya pendidikan di sekolah ke dalam kehidupan di masyarakat, dan juga membawa kehidupan di masyarakat ke sekolah. Selanjutnya, sebagai pendidik masyarakat, bersama unsur masyarakat lainnya guru berperan mengembangkan berbagai upaya pendidikan yang dapat menunjang pencapaian hasil pendidikan yang bermutu.

 

Kedudukan seorang guru di lingkungan tempat tinggal merupakan sosok yang sering menjadi harapan bagi sebagian besar masyarakat pada umumnya. Keberagaman latar belakang kehidupan di suatu masyrakat akan semakin banyak ide dan kebutuhannya yang sangat membutuhkan kehadiran orang yang sanggup menjadi akomodator bagi lingkungan meskipun  hal itu tidak luput dari kekurangan dan kelemahan sebagai mahluk pribadi. Sering kali kehadiran guru di tengah masyarakat memiliki manfaat yang sangat penting bagi keharmonisan suatu kelompok masyarakat.

 

Sebagai pribadi yang memiliki jiwa kearifan dan kesederhanaan dalam berbagai tindakan dan perilaku sehari-hari, guru sering menjadi teladan bagi masyarakat. Keteladanan itu tercermin dari perilaku hidup yang cenderung dalam kesederhanaan. Pola kehidupan yang demikian hampir merata terlihat di berbagai jenis kelomp[ok mmasyarakat dengan strata sosial mulai dari yang terendah sampai dengan masyarakat mewah.

Dalam hubungan sosial bermasyakat, seorang guru sering kali tampil sebagai contoh untuk ditiru dan dicermati segala aktifitasnya. Tindak tutur yang muncul dari sosok guru sudah semestinya mencerminkan kearifan kepribadian yang dapat mempengaruhi emosi masyrakat. Sering kali perkataan guru di mayarakat menjadi semacam lampu terang dalam situasi tertentu.

 

Jika kita mengingat kembali masa kehidupan Socrates sebagai seorang pemahat patung yang memiliki keahlian dalam filsafat dengan kepribadian yang sangat sederhana, Socrates menjadi penasehat raja yang sanggup mempengaruhi dan membangun negeri melalui tangan raja. Kehidupan lingkungan masyarakat di sekelilingnya sangat tergamabar dari kepribadian sederhana yang dimunculkan dalam berkehidupan melalui Plato dan Aristoteles sebagai generasi penerusnya.  Ini membuktikan bahwa ilmu yang dimiliki seorang guru mampu menjadi keteladanan bagi kehidupan bermasyarakat.

 

Dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kalimat semboyannya ing madya mamgun karsa bahwa kehadiran guru di tengah masyarakat sangat bermanfaat bagi komunitas masyarakat tersebut. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan kondisi masyrakat yang sering kali membutuhkan ide dan pemikiran serta tindakan konkret dari sosok guru. Setiap gagasan dan ide yang dimunculkan mampu menggerakkan anggota masyarakat dalam berbagai kegiatan misalnya kerja bakti warga dan  peringatan hari besar agama maupun nasional dan lain-lain yang melibatkan berbagai komponen masyrakat,

 

Selain itu, dalam situasi tertentu, kehadiran guru sebagai tokoh yang mampu menengahi suatu permasalahan masyarakat sangat dibutuhkan kebermanfaatannya. Pada era modern seperti saat ini, dengan latar belakang masyarakat dan kondisi sosial yang sangat heterogen, kemungkinan munculnya permasalahan sosial, ekonomi, atau politik di suatu kelompok masyarakat sangat besar. Dicontohkan dengan sebuah konflik masyarakat yang sering muncul dalam suatu kegiatan program kerja masyarakat untuk pembukaan lahan sebagai jalan setapak untuk akses warga. Hal ini sering kali mengalami kendala karena kurang maksimal dalam dialog dengan anggota masyarakat sehingga timbul keengganan sebagian masyarakat untuk  melaksanakan program.  Pada situasi demikian, kehadiran seorang yang mampu memberikan alternatif atau solusi pemecahan masalah sangat dibutuhkan. Ini bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemapuan dialog dan memiliki kemampuan membaca psikologi masyarakat. Ilmu semacam ini sering dimiliki oleh seorang guru.

 

Dalam Undang-undang no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pada bab 1 pasal 1 dikatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam kehidupan di tengah masyarakat, profesi seorang guru sering menjadi bahan rujukan untuk memperoleh dan menyerap ilmu. Hal ini menjadi sesuatu yang tidak ringan karena kehidupan dan perkembangan masyarkat sanjutnya menjadi taruhan. Baik buruknya tingkat pendidikan masyarakat sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai profesiaonal.

 

Guru, lebih dari siapa pun, diharapkan untuk membangun komunitas  dan menciptakan masyarakat berpengetahuan sehingga mampu mengubah hal yang mendasar untuk kemakmuran ekonomi. Masyarakat memberikan tingkat kepercayaan kepada guru sebagai pengajar profesional yang bervariasi. Masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi dalam kerja yang dilakukan oleh guru. Masyarakat memeberikan kekuatan yang cukup terhadap anak mereka. sebagian besar orang tua, secara sukarela mengizinkan anak mereka untuk dipengaruhi dan mengharapkan anak mereka untuk menurut dan menghargai guru. Dengan kondisi fakta yang demikian itu, guru hampir dapat dipastikan sebagai salah satu rujukan kuat untuk pengembangan pendidikan di masyarakat.

 

Keberagaman masyarakat yang didominasi kaum berpendidikan rendah  dalam kehidupan sehari-hari sering kali menimbulkan polemik tersendiri. Sering kali terjadi kondisi stagnan di masyarakat itu. Kondisi semacam ini dapat diartikan sebagai kondisi dalam kurun waktu tertentu tidak mengalami perubahan peningkatan pembangunan dari ditinjau dari bebrapa sisi. Stagnasi ini terjadi karena sebagian besar masyarakat tidak berani untuk melangkanh maju karena minimnya pengalaman belajar dan kurangnya kepercayaan diri untuk melakukan tindakan. Lebih parahnya lagi, timbul ketidakpercayaan antarmasyarakat yang dipicu sedikit perbedaan pendapat dalam komunitas. Hal ini akan terus berlangsung sampai dengan ada sosok atau sekelompok orang yang memiliki tingkat kemampuan menggerakan masyarakat untuk berkembang.

 

Sebagai figur yang dapat memberikan kekuatan psikologi, guru sangat diharapkan keberadaanya di tengah masyarakat. Dengan didasarkan pada kepribadian guru pada umumnya yang harus dimiliki seorang pendidik, masyarakat memercayakan sosok guru untuk menggerakkan kelompoknya dengan kemampuan bersosialisasi dan memitivasi. Sering kali terjadi di masyarakat seorang guru menjadi tokoh masyarakat yang dianggap serba bisa dengan tidak menafikkan kekurangan yang dimilikinya. Di sinilah letak peran guru ditengah masyarakat yang diyakini mampu  membangkitkan semangat masyarakat di tengah “kemandegan” berpikir dan keengganan bergerak. Sebagai penggerak masyarakat, sering kali kemampuan guru dijadikan landasan untuk memulai sebuah perubahan.

 

Pada hakikatnya, seorang manusia “guru” akan menjadi bermanfaat bagi diri dan masyarakatnya manakala orang tersebut memiliki keberanian dalam menyampaikan ilmunya dan memberikan keteladanan yang diharapakan oleh masyarakat di mana dia berada. Kebermanfaatan itu akan menjadi titik tolak perkembangan peradaban dan kemajuan pendidikan masyarakat. Kemampuan untuk mendorong kondisi masyarakat ke arah lebih maju dan peletakan dasar kearifan yang kuat pada kepribadian masyarakat akan menjadi rujukan bagi generasi selanjutnya.

Selasa, 15 Maret 2022

Peningkatan Kapasitas Diri Guru oleh Yuni Rokhmawati, S.Pd Guru IPA SMP Muhammadiyah 2 Kebumen

 

 

Guru merupakan seorang pendidik dan pengajar pada pendidikan formal dan pendidikan informal. Peran guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik. Guru merupakan ruh pada proses pembelajaran, keberhasilan  mendidik dan mengajar siswa terletak pada guru yang berkualitas.

Problematika dunia pendidikan pada masa pandemi Covid 19 guru mengalami kesulitan dalam mengajar dan harus menyesuaikan dengan pengusaan teknologi. Proses pembelajaran yang biasanya menggunakan metode tatap muka beralih ke metode daring. Peralihan pembelajaran daring ini membuat guru kesulitan menstranfer ilmunya kepada peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran daring pada awal pandemi Covid 19 pun sedikit terhambat karena kurangnya kemampuan penguasaan teknologi, terbatasnya sarana dan prasarna serta biaya yang harus dikeluarkan untuk menunjang teknologi tersebut.

Pembelajaran daring menggunakan aplikasi seperti : WA Grup, E Lerning, Classroom, Quiziz, Kahoot dan lain-lain, ternyata tidak seefektif kegiatan pembelajaran tatap muka langsung, karena belum tentu apa yang disampaikan guru langsung bisa dipahami oleh semua siswa. Komunikasi siswa juga terbatas, mereka kurang berani mengungkapkan pendapatnya saat pembelajaran daring.

Mengamati pengalaman beberapa guru, maka guru juga harus siap menggunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Guru harus mampu membuat model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa di sekolahnya. Guru harus terbiasa mengajar dengan memanfaatkan media daring yang dikemas efektif, mudah diakses dan dipahami oleh siswa.

Untuk meningkatkan kompetensi guru di masa pandemi Covid 19 dan Era Revolusi Industri 4.0, guru harus bisa bersinergi dengan teknologi. Guru lebih dituntut untuk memahami dinamika kelas yang terus berkembang. Guru yang bisa memanfaatkan teknologi, maka guru tersebut lebih percaya diri dan mudah dalam mengajar siswa. Ruang belajar lebih menyenangkan, kreatif dan inovtif.

Pendidikan saat ini dituntut guru mampu membekali siswa dengan ketrampilan abad 21 meliputi 1) Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), merupakan implementasi profil pelajar pancasila 2) 4C (Literasi, Critical Thinking, Creative Thinking, Collaboration, dan Communication) 3) Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS).  Ketrampilan abad 21 adalah ketrampilan peserta didik yang mampu berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, ketrampilan berkomunikasi dan kolaborasi. Selain itu ketrampilan mencari, mengelola dan menyampaiakan informasi serta terampil menggunakan teknologi.

Guru perlu meningkatkan kompetensi sesuai dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0, karena revolusi industri menuntut guru mampu memanfaatkan kemajuan teknologi yang super cepat untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul. Di era revolusi industri 4.0, jika guru hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa di kelas, maka peran guru dapat tergantikan oleh teknologi. Padahal hakekat yang sebenarnya, peran guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi secanggih apapun dalam mendidik karakter, moral dan memberikan keteladanan kepada siswa.

Dunia berubah sangat cepat, digitalisasi menyebabkan perubahan yang sangat besar. Apabila guru tidak mau meningkatkan kompetensinya, ruang kelas akan terasa hampa. Ruang kelas sangatlah penting bagi perkembangan intelektual siswa dan perkembangan kepribadian siswa. Ruang kelas dengan model lama harus segera ditinggalkan dan di era digitalisasi ruang kelas mengalami perubahan kearah pola pembelajaran digital yang menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, partisiptif, beragam dan menyeluruh. Guru berperan penting dalam mengkonseptualkan informasi dan membimbing peserta didik saat diskusi daring maupun pembelajaran tatap muka.

                Kompetensi guru yang lain yang harus dikuasai adalah menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.  Guru memegang peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif bagi siswa. Guru yang kompeten akan lebih mampu untuk menjalankan perannya menciptakan pembelajaran yang efektif sehingga diharapkan hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Untuk menghasilkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif langkah yang harus dilakukan guru adalah membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran yang inspiratif.

                Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan  jenjang pendidikan dasar difokuskan pada penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila serta  kompetensi literasi dan numerasi. Guru diharapkan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis literasi, numerasi dan profil pelajar Pancsila. Dengan regulasi yang selalu berubah guru mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini. Pemerintah mempunyai arah kebijakan pada dunia pendidikan yaitu meningkatan literasi, inovasi, dan kreativitas. Strategi kebijakan pemerintah antara lain: 1) peningkatan budaya literasi; 2) pengembangan, pembinaan dan pelindungan bahasa Indonesia, bahasa dan aksara daerah, serta sastra; dan 3)penguatan institusi sosial penggerak literasi  dan inovasi.               

                Tantangan dunia pendidikan sejak pandemi Covid 19 diantaranya pemerintah menghapus UN dan menggantinya dengan menerapkan Aseemnet Nasional. Asesmen Nasional mencakup AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), Survei Karakter, Survei Lingkungan Belajar.  Siswa Indonesia masih mengalami krisis literasi, baik pada tingkat dasar, menengah dan atas. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan saja, harus dicari solusi yang tepat. Guru harus mengetahui tentang Assement Nasional yang nantinya bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dan mulai membiasakan literasi sejak anak usia dini.

                AKM mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Sasaran AKM adalah siswa. Survei Karakter mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter pelajar Pancasila. Yang menjadi sasaran siswa. Survei Lingkungan Belajar mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah, menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Sasarannya adalah siswa, guru, Kepala Sekolah

                Visi Pendidikan Nasional adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa  kepada Tuhan YME, dan berakhlak  mulia, bergotong royong, dan  berkebinekaan global.      Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,

                Pendidikan di Indonesia bisa berjalan selaras dengan perkembangan zaman, bisa terwujud jika guru memberikan kapasitasnya secara maksimal dalam proses pembelajaran. Yang harus dilakukan guru yaitu mendesaian pembelajaran berbasis Literasi, Numerasi dan Profil Pelajar Pancasila. RPP yang dibuat guru menjadi dasar guru mengajar, Langkah -langkah pembelajaran tersusun secara sistematis sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan juga bisa tercapai.

Peningkatan kompetensi guru dilakukan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran. Dengan guru mendesain pembelajaran berbasis literasi (membaca) dan numerasi (angka-angka), guru menyiapkan bahan bacaan atau teks untuk dibaca dan dianalisis oleh siswa. Satu teks bacaan  bisa untuk mengajukan ide dan gagasan literasi atau numerasi. Rasa ingin tahu dari siswa bisa ditumbuhkan dengan cerita atau bacaan yang disajikan, siswa diajak untuk berpikir kritis, menyampaikan ide dan gagasannya, hingga siswa mampu menyimpulkan dari bacaan yang disediakan oleh guru.

Pada teks bacaan siswa bisa diajak untuk menganalisis data, kemudian data tersebut dijabarkan dalam bentuk tabel atau grafik. Hal ini juga melatih numerasi siswa. Dengan siswa terbiasa mempelajari literasi dan numerasi pada proses pembelajaran, siswa memiliki nalar yang kritis dan melahirkan ide-ide yang mampu mengubah paradigma pembelajaran selama ini . Siswa memiliki optimisme tinggi terhadap masa depannya.

Penguatan Karakter yang yang dimunculkan menjadi implementasi profil pelajar Pancasila. Setiap pembelajaran guru harus memasukkan karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri. Harapan besar bagi dunia pendidikan, dapat menciptakan karakter yang kuat bagi siswa. Karakter siswa yang tumbuh bisa menjadi pengendali diri siswa di era digitalisasi.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan, dituntut memiliki kemampuan dasar sebagai pendidik dan pengajar, mampu menciptakan pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan. Guru dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman belajar yang berkesan kepada siswa.  Untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas, sebelum mengajar guru harus mempersiapkan diri mulai dari penggunaan teknologi (aplikasi daring), membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berbasis literasi, numerasi dan profil pelajar Pancasila. Dengan demikian guru berkualitas telah menyiapkan generasi muda bangsa Indonesia cerdas dan unggul yang siap membangun Indonesia Maju.